HEMATOLOGI
III
(METODE
PEMERIKSAAN PENEGAKAN DIAGNOSIS ANEMIA)
NAMA : AGNES GLORIA REHY
NIM
: 18 3145 353 102
KELAS : 2018C
PROGRAM STUDI DIV
TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI,
TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
“PEMBUATAN DAN PEWARNAAN SEDIAAN
APUS”
A.
Pra Analitik
Persiapan pasien: tidak
memerlukan persiapan khusus Persiapan sampel:
- Darah kapiler segar akan memberikan morfologi dan
hasil pewarnaan yang optimal pada sediaan apus
- Darah EDTA (etilen diamin tetra asetat). EDTA
dapat dipakai karena tidak berpengaruh terhadap morfologi eritrosit dan lekosit
serta mencegah trombosit bergumpal. Tes sebaiknya dilakukan dalam waktu kurang
dari 2 jam. Tiap 1 ml EDTA digunakan untuk 1 ml darah vena
Prinsip tes sediaan
apus:
dibuat apusan darah pada kaca objek. Prinsip
pewarnaan didasarkan pada sifat kimiawi dalam sel. Zat warna yang bersifat asam
akan bereaksi dengan komponen sel yang bersifat alkalis, demikian pula
sebaliknya. Pewarnaan sediaan apus menggunakan prinsip Romanosky yaitu
menggunakan dua zat warna yang berbeda yang terdiri dari Azure B
(trimethylthionin)yang bersifat basa dan eosin Y (tetrabromoflourescein) yang
bersifat asam seperti yang dianjurkan oleh The International Council for
Standardization in Hematology, dan pewarnaan yang dianjurkan adalah
Wright-Giemsa dan May Grunwald-Giemsa (MGG).
Alat dan bahan :
Alat:
a. Kaca Objek 25x75 mm
b. Batang gelas
c. Rak kaca objek
d. Pipet Pasteur
Bahan/reagen :
1. Metanol absolut dengan kadar air kurang dari 4%,
disimpan dalam botol yang tertutup rapat untuk mencegah masuknya uap air dari
udara .
2. Zat warna Wright Zat warna Wright 1 gr Methanol
absolut 600 ml Penambahan alkohol sedikit demi sedikit, sambil dikocok dengan
baik dengan bantuan 10–20 butir gelas. Tutup rapat untuk mencegah penguapan dan
disimpan ditempat yang gelap selama 2 – 3 mg, dengan sering-sering dikocok,
saring sebelum dipakai.
3. Larutan dapar pH 6,4 Na2HPO4 2,56 gKH2PO4 6,63 g
Air suling 1 L Sebagai pengganti larutan dapar, dapat dipakai air suling yang
pHnya diatur dengan penambahan tetes demi tetes larutan Kalium bikarbonat 1%
atau larutan HCl 1% sampai indikator Brom Thymol Blue ( larutan 0,04 % dalam
air suling ) yang ditambahkan mencapai warna biru.
4. Zat warna Giemsa Zat warna giemsa 1g Methanol
absolut 10 ml Hangatkan campuran ini sampai 50°C dan biarkan selama 15 menit,
kemudian disaring. Sebelum dipakai, campuran ini diencerkan sebanyak 20 x
dengan larutan dapar pH 6,6. Untuk mencari parasit malaria, dianjurkan
menggunakan larutan dapar pH 7,2
5. Zat warna May - Grunwald Methylene blue dalam
methanol 1% eosin dan 1 % methylene blue
B.
Analitik
Cara Membuat Sediaan
Apus :
1. Dipilih kaca objek yang bertepi rata untuk
digunakan sebagai, kaca penghapus‟ sudut kaca objek yang dipatahkan, menurut
garis diagonal untuk dapat menghasilkan sedian apus darah yang tidak mencapai
tepi kaca objek
2. Satu tetes kecil darah diletakkan pada ± 2 –3 mm
dari ujung kaca objek. Kaca penghapus diletakkan dengan sudut 30 – 45 derajat
terhadap kaca objek didepan tetes darah.
3. Kaca pengapus ditarik ke belakang sehingga tetes
darah, ditunggu sampai darah menyebar pada sudut tersebut.
4. Dengan gerak yang mantap, kaca penghapus didorong
sehingga terbentuk apusan darah sepanjang 3 – 4 cm pada kaca objek. Darah harus
habis sebelum kaca penghapus mencapai ujung lain dari kaca objek. Apusan darah
tidak bolah terlalu tipis atau terlalu tebal, ketebalan ini dapat diatur dengan
mengubah sudut antara kedua kaca objek dan kecepatan menggeser. Makin besar
sudut atau makin cepat menggeser, maka makin tipis apusan darah yang
dihasilkan.
5. Apusan darah dibiarkan mengering di udara.
Identitas pasien ditulis pada bagian tebal apusan dengan pensil kaca.
Sediaan Yang Baik
Mempunyai Ciri – ciri :
1. Tidak melebar sampai tepi kaca objek, panjangnya
setengah sampai dua pertiga panjang kaca
2. Mempunyai bagian yang cukup tipis untuk
diperiksa, pada bagian itu eritrosit terletak berdekatan tanpa bertumpukan.
3. Rata , tidak berlubang-lubang dan tidak
bergaris-garis
4. Mempunyai penyebaran lekosit yang baik, tidak
berhimpun pada pinggir-pinggir atau ujung-ujung sediaan
Cara Mewarnai Sediaan Apus
I. Pewarnaan Wright
1. Letakkan sediaan apus pada dua batang gelas
2. Fiksasi sediaan apus dengan metanol absolut 2 – 3
menit.
3. Genangi sediaan apus dengan zat warna Wright
biarkan 3 – 5 menit.
4. Tambahkan larutan dapar tercampur rata dengan zat
warna. Biarkan selama 5 – 10 menit.
5. Bilas dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran
lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat
warna. Letakkan sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan
mengering.
II.
Pewarnaan Giemsa
1. Letakkan sediaan apus pada dua batang gelas di atas
bak tempat pewarnaa
2. Fiksasi sediaan apus dengan metanol absolut 2 – 3
menit.
3. Genangi sediaan apus dengan zat warna Giemsa yang
baru diencerkan. Larutan Giemsa yang dipakai adalah 5%, diencerkan dulu dengan
larutan dapar. Biarkan selama 20 – 30 menit.
4. Bilas dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran
lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat
warna. Letakkan sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan
mengering.
III. Pewarnaan May Grunwald – Giemsa (MGG)
1. Letakkan sediaan
apus yang telah difiksasi diatas rak pewarnaan
2. Genangi sediaan apus dengan zat warna May
Grunwald yang telah siap pakai, biarkan 2 menit
3. Tambahkan larutan buffer pH 6.4 sama banyak
dengan larutan MGG yang telah diberikan sebelumnya. Tiup agar larutan dapat
tercampur rata dengan zat warna. Biarkan selama 2 menit
4. Bilas dengan air (buang kelebihan zat warna)
5. Genangi dengan larutan Giemsa 5% (larutan buffer
pH 6.4 10 ml + Giemsa 0,5 ml) biarkan selama 10-15 menit.
6. Bilas dengan air ledeng , mula-mula dengan aliran
lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat
warna.
Letakkan sedian dalam sikap vertikal dan
biarkan mengering sendiri.
Sumber Kesalahan :
1. Kesalahan dalam persiapan penderita, pengambilan
dan penyimpanan bahan pemeriksaan
2. Sediaan apus terlalu biru memungkinkan disebabkan
oleh apusan yang terlampau tebal, pewarnaan terlalu lama, kurang pencucian, zat
warna atau larutan dapar yang alkalis.
3. Sediaan apus terlalu merah mungkin disebabkan
oleh sat warna sediaan atau larutan dapar yang asam. Larutan dapar yang terlalu
asam dapat menyebabkan lekosit hancur.
4. Bercak-bercak zat warna pada sediaan apus dapat
disebabkan oleh zat warna tidak disaring sebelum dipakai atau pewarnaan terlalu
lama sehingga zat warna mengering pada sedian.
5. Morfologi sel yang terbaik adalah bila menggunakan
darah tepi langsung tanpa anti koagulan. Bila menggunakan anti koagulan sediaan
apus harus dibuat segera, tidak lebih dari satu jam setelah pengambilan darah.
Penggunaan antikogulan heparin akan menyebabkan latar belakang berwarna biru
dan lekosit menggumpal
6. Sediaan hapus yang tidak rata dapat disebabkan
oleh kaca pengapus yang tidak bersih atau pinggirannya tidak rata atau oleh
kaca objek yang berdebu, berlemak atau bersidik jari.
7. Fiksasi yang tidak baik menyebabkan perubahan
morfologi dan warna sediaan. Ini mungkin terjadi apabila fiksasi dilakukan
menggunakan methanol yang tidak absolut karena telah menyerap uap air akibat
penyimpanan yang tidak baik.
8. Fiksasi yang tidak dilakukan segera setelah
sediaan apus kering dapat mengakibatkan perubahan morfologi lekosit.
Nilai Rujukan:
Evaluasi Eritrosit Yang perlu
diperhatikan dalam mengevaluasi eritrosit adalah morfologi, perhatikan:
- Ukuran (size):
Diameter
eritrosit yang normal (normositik) adalah 6 – 8 µm atau kurang lebih sama
dengan inti limfosit kecil
- Bentuk (shape):
Bentuknya
bikonkaf bundar dimana bagian tepi lebih merah daripada bagian sentralnya
- Warna (staining): Bagian sentral lebih pucat
disebut akromia sentral yang luasnya antara 1/3 -1/2 kali diameter eritrosit
- Benda-benda inklusi (structure intracel):
- Distribusi :
merata
Evaluasi Lekosit Lekosit adalah sel berinti. Dalam darah tepi yang paling
banyak ditemukan adalah sel polimorfonuklear netrofil (PMN). Jenis lekosit yang
normal yang ditemukan dalam darah tepi adalah eosinofil (1% - 3%), bisafil
(0-1%), netrofil batang (2%-6%), netrofil segmen atau sel PMN (50%-70%),
limfosit (20%-40%) dan monosit (2%-8%). Dalam keadaan normal diperkirakan
terdapat 1 lekosit per 500 eritrosit Evaluasi Trombosit Diameter trombosit
adalah 1-3 µm, tidak berinti, mempunyai granula dan bentuknya reguler.
Perkiraan jumlah trombosit dalam keadaan normal diperkirakan terdapat 1
trombosit per 15 – 20 eritrosit atau 5 – 15 per lapangan pandang imersie
C.
Pasca Analitik
Evaluasi Eritrosit Dengan pemeriksaan ini dapat
ditemukan berdasarkan morfologi yakni
- Anemia Mikrositik Hipokrom misalnya pada penderita defisiensi Fe.
- Anemia Normositik Normokrom misalnya pada pendarahan akut.
- Anemia Mikrositik misalnya pada
defisiensi Vit. B12 dan asam folat.
Bentuk eritrosit
hemolisis :
-
Morfologi secara umum adalah polikromatofilik, makrosit, dan sel eritrosit
berinti. Bentuk morfologi khusus bervariasi tergantung etiologi kerusakan eritrosit:
Akantosit pada abetalipoproteinemia, sirosis, uremia, Haemolytic Uremic
Syndrome (HUS), anemia hemolitik.
Ekinosit pada
abetalipoproteinemia, sirosis, uremia HUS, Sel Target pada Hb C atau E,
penyakit hati, ikterus obstruktif, talasemia, pasca splenektomi. Sel tetes Air
Mata pada mielofibrosis, talasemia, anemia hemolitik, mieloftisis. Sickle Cell
pada sickle cell anemia.Sferosit pada hemolisis didapat maupun herediter.
Ovalosit pada ovalositosis herediter. Sistosit pada talasemia, anemia
hemolitik, mikroangiopati.
Distribusi
abnormal eritrosit Rouleaux formation pada multipel mieloma, makroglobulinemia
Waldenstorm. Benda-benda inklusi dalam eritrosit
- Normoblast pada pendarahan akut, hemolisis berat
mielofibrosis, asplenia, leukemia, mieloftsis.
- Basophilic Stippling anemia sindroma
Mielodisplasia.
- Howell Jolly Bodies pada anemia megaloblastik,
asplenia, hemolisis berat.
- Cabot’s, Ring pada hemolisis berat.
- Heinz Bodies pada talasemia, anemia hemolitik
karena obat, leukemia
- Parasit : plasmodium malaria, biasanya disertai
dengan tanda-tanda hemolitik. Evaluasi Lekosit Pada APK ditemukan tanda infeksi
seperti persentase jumlah netrofil, limfosis meningkat, hipersegmentasi,
granulasitoksis, dan vakuolisasi sitoplasma.Evaluasi Trombosit
Trombositosis
dapat ditemukan pada :
Mieloproliferatif,
pendarahan akut, infeksi, penyakit inflamasi, Hodgkin, trombosis vena, post
splenektomi.
Trombositopenia
dapat ditemukan pada :
radiasi eritroleukimia,
anemia megaloblastik, giant hemangioma,Thrombotic Purpura (TTP), Disseminated
Intravasucular Coagulation (DIC), purpura trombositopenia karena obat, pasca
tranfusi, SLE, Immunologic, Thrombocytopenia Purpura (ITP) Trombosit besar
dapat ditemukan pada: May Hegglin anomaly, Sindroma Mielodisplasia, AML.
“HITUNG RETIKULOSIT”
Retikulosit adalah eritrosit muda yang
sitoplasmanya mengandung sisa-sisa ribosom dan RNA yang berasal dari sisa inti.
Ribosom mempunyai kemampuan untuk bereaksi dengan cat tertentu seperti
Brilliant Cresyl Blue atau New Methylene Blue untuk membentuk endapan granula
atau filamen yang berwarna biru. Reaksi ini hanya terjadi pada pewarnaan
terhadap sel yang masih hidup dan tidak difiksasi, oleh karena itu disebut
pewarnaan Supravital. Retikulosit paling muda (imature) mengandung ribosome
terbanyak, sebaliknya retikulosit tua hanya mempunyai beberapa titik ribosom.
Banyaknya retikulosit dalam darah tepi menggambarkan aktivitas eritropoesis
yang hampir akurat. Hitung retikulosit dinyatakan sebagai persentasi jumlah
retikulosit per 100 eritrosit.
A. Pra Analitik
1. Persiapan pasien
2. Persiapan sampel
3. Prinsip :
Darah dicampur dengan larutan, Brilliant Crecyl Blue atau larutan New
Methylene Blue, lalu dibuat sediaan. Dan jumlah retikulositnya dihitung dibawah
mikroskop. Jumlah retikulosit dihitung per 1000 eritrosit dan dinyatakan dalam
%
Alat dan
bahan :
Alat :
a) Tabung reaksi kecil
b) Kaca obyek dan kaca penggeser
c) Pipet Pasteur
d) Penangas
air
e) Mikroskop.
Bahan :
Brilliant Cresyl Blue atau New Methylene Blue (Colour Index 52030) 1g
Larutan sitrat salin 100 ml Larutan
sitrat salin dibuat dengan mencampur 1 bagian natrium sitrat 30 g/l 4 bagian
larutan Na Cl 9,0 g/l
B. Analitik
I. SEDIAAN KERING :
1. Kedalam tabung reaksi
kecil teteskan 3 tetes larutan Brilliant Cresyl Blue atau New Methylene Blue.
2. Tambahkan 3 tetes
darah, campurkan baik-baik dan biarkan pada suhu ruangan selama 15 menit agar
pewarnaan sempurna. Cara yang lain :Setelah ditambahakan 3 tetes darah,
campurkan baik-baik, tabung ditutup dengan parafilm dan diinkubasi pada 37 c
selam 30-60 menit.
3. Setelah inkubasi,
tabung dihomogenkan lagi dan ambil 1 tetes untuk membuat sediaan apus.
Keringkan di udara dan diperiksa di bawah mikroskop.
4. Periksalah dengan
perbesaran obyektif 100 kali.Dicari daerah yang baik yaitu eritrosit tidak
tumpang tindih. Retikulosit tampak sebagai sel yang lebih besar dari eritrosit.
Dan mengandung filamen atau granula. Dengan BCB, eritrosit berwarna biru
keunguan dengan filamen atau granula berwarna ungu. Bila menggunakan NMB,
retikulosit berwarna biru dengan filamen atau granula berwarna biru tua.
5. Hitunglah jumlah
retikulosit per 1000 eritrosit dengan lensa emersi
6. Jumlah retikulosit
dapat dinyatakan persen / per mil terhadap jumlah eritrosit total atau
dilaporkan dalam jumlah mutlak. Misal : dalam 10 lapangan pandang dijumpai 2000
eritrosit dan retikulosit 76. 100 Jumlah retikulosit (%) : x 76 = 3,8 % atau
2000 1000 x 76 = 38 permil 2000 Bila
diketahui jumlah eritrosit 3,5 juta/µl makab38 Jumlah retikulosit = x 3.500.000
/ul = 133.000 / µl 1000
II. SEDIAAN BASAH :
1. Taruh 1 tetes larutan BCB ditengah-tengah kaca
obyek.
2. Tambahkan
2 tetes darah dilarutan BCB, homogenkan darah dengan larutan BCB dengan
menggunakan sudut kaca obyek.
3. Tutup dengan kaca penutup
4. Periksa
dengan minyak emersi Cara penghitungan sama dengan sediaan kering Jika didapatkan jumlah retikulosit yang
tinggi atau disertai dengan nilai hematokrit rendah maka dilakukan koreksi
terhadap nilai retikulosit. Nilai koreksi ini disebut indeks retikulosit(Reticulocyte
Production Indeks)
RP I = % Retikulosit x Hmt penderit x
faktor koreksi
Hmt normal
Hematokrit Penderita
|
Faktor Koreksi
|
40-45
35-40
25-34
15-24
< 15
|
1,0
1,5
2,0
2,5
3,0
|
C.
Pasca Analitik
Nilai rujukan = 0,5 – 1,5%
Hitung
retikulosit meningkat pada : perdarahan akut, hemolisis, RP I <2% =
kegagalan sum-sum tulang membentuk eritrosit.
RP I 2 – 3%
= respons baik terhadap anemia hemolitik
RP I >3% = Hiperproliferasi
Sumber
kesalahan :
1. Volume darah yang digunakan tidak sesuai dengan volume zat warna
2. Zat warna
tidak disaring akan mengendap di eritrosit sehingga tampak seperti retikulosit
3. Waktu
inkubasi campuran darah dan zat warna kurang lama
4. Tidak
menghomogenkan campuran zat warna dengan darah sebelum membuat sediaan apus
Retikulosit mempunyai berat jenis yang lebih rendah dari eritrosit sehingga
berada dibagian atas dari campuran.
5.
Menghitung di daerah yang terlalu padat
6. Jumlah eritrosit yang dihitung tidak mencapai
1000.
“TES COOMB’S“
Tes Coomb‟s diindikasikan pada pasien dengan
dugaan Anemia Hemolitik Autoimun (AIHA). AIHA adalah kelainan yang ditandai
oleh pemendekan umur eritrosit yang disebabkan oleh adanya antibodi dalam serum
penderita yang bereaksi dengan eritrosit penderita itu sendiri. Autoantibodi
tersebut dapat berupa imunoglubulin G (IgG) atau imunoglobulin M (IgM).
A. Pra Analitik :
1. Persiapan pasien :
Catat daftar obat yang
sedang dikonsumsi pasien.
Obat yang dapat mempengaruhi tes ini adalah :
penisilin, sefalosporin, antihipertensi dan lain-lain
2. Persiapan sampel :
hindari sampel
hemolisis, sampel darah dengan antikoagulan natrium sitrat 3,8%. Tes sebaiknya
dilakukan selambatnya 2 jam.
3. Prinsip :
Penambahan serum Coomb‟s
(serum hewan yang mengandung antibodi spesifik terhadap globulin manusia) pada
eritrosit yang tersensitisasi / eritrosit yang terbungkus dengan imunoglobulin
atau komplemen akan menimbulkan suatu aglutinasi
Alat dan
bahan :
Alat :
a) Tabung reaksi
b) Pipet tetes
c) Sentrifus
d) Inkubator
e) Kaca obyek dan kaca penggeser
Bahan :
a) Darah sitrat (1:9)
b) Larutan NaCl fisiologis (0,9%)
c) Reagen Coomb‟s
B.
Analitik :
1. Sebanyak
0,5 ml darah yang diperiksa dimasukkan ke dalam tabung reaksi
2. Lakukan
pencucian eritrosit 4 kali berturut-turut dengan setiap kali dilakukan
sentrifus kemudia plasma dibuang
3. Buatlah
suspensi eritrosit yang tertinggal dalam tabung setelah sentrifus terakhir
dengan menambah sekian banyak NaCl fisiologis sampai suspensi eritrosit
mempunyai nilai hematokrit 2%
4. Ke dalam
tabung 75 x 10 mm, masukkan 1 tetes suspensi tadi kemudian tambahkan dengan 2
tetes reagen Coomb‟s
5. Campur
kemudian inkubasikan pada suhu 37OC selama 30-50 menit
6. Kocok
dengan hati-hati tabung tersebut lihat adanya aglutinasi, konfirmasikan dengan
menggunakan mikroskop
7. Jika
hasilnya negatif lakukan sentrifus kembali dengan 1000 rpm selama 1 menit
8. Periksa
kembali adanya aglutinasi seperti langkah 6
9.
Bandingkan hasil tes dengan kontrol positif dan kontrol negatif
C.
Pasca Analitik :
- Terjadi
aglutinasi membuktikan adanya antibodi yang melapisi eritrosit. Tes
- Coomb‟s positif ditemukan pada : Penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir Anemia hemolitik autoimun Anemia hemolitik
karena obat-obatan Reaksi transfusi hemolitik
“Tes
Hb elektroforesis”
A. Pra
Analitik :
o
Persiapan Pasien :
Tidak ada persiapan khusus yang diperlukan. Namun,
jika anak Anda memiliki transfusi dalam 3 bulan terakhir, tingkat hemoglobin
dapat diubah, sehingga membiarkan dokter tahu. Pada hari tes, mungkin membantu
untuk memiliki anak Anda mengenakan kemeja lengan pendek untuk memungkinkan
akses yang lebih mudah bagi teknisi yang akan menggambar darah.
o
Prinsip : darah ditambahkan
antikoagulan, SDM dari sampel beku ACD ( bila sampel dikirim) jika anemia,
gunakan - > packed cells
<
air , SDM dicuci dengan larutan 9 g/l, SDM dilisiskan dengan air dan ccl4 atau
dengan freezing dan thawing tambahkan ccl4 sentrifuge 3000 rpm
selama 30 menit pindahkan lautan yang jernih
Hb
diaduk sampai 100g/l
o
Alat dan Bahan
Alat :
a) Elektoforesis
b) Tabung
c) Centrifuge
Bahan :
a) Darah
b) CCl4
c) SDM
d) Freezing
e) Thawing
B.
Analitik :
o
Prosedur kerja 1 :
1. Diambil
darah dari vena. Untuk bayi, darah dapat diperoleh dengan menusuk tumit dengan
jarum kecil (lancet).
2. Jika
darah sedang diambil dari vena, permukaan kulit dibersihkan dengan antiseptik
dan karet gelang (tourniquet) ditempatkan di sekitar lengan atas untuk
menerapkan tekanan dan menyebabkan pembuluh darah membengkak dengan darah.
3. Sebuah
jarum dimasukkan ke pembuluh darah (biasanya di bagian dalam lengan siku atau
di punggung tangan) dan darah ditarik dan dikumpulkan dalam botol atau jarum
suntik. Setelah prosedur, band elastis dihapus. Setelah darah telah
dikumpulkan, jarum dicabut dan daerah ditutupi dengan kapas atau perban untuk
menghentikan pendarahan. Mengumpulkan darah untuk tes hanya akan memakan waktu
beberapa menit.Entah metode (tumit atau vena penarikan) mengumpulkan sampel
darah hanya sementara tidak nyaman dan dapat merasa seperti cocokan peniti cepat.
Setelah itu, mungkin ada beberapa memar ringan, yang harus pergi dalam satu
hari atau lebih.
o
Prosdur
kerja II :
1.
Di ambil darah ditambahkan antikoagulan, SDM dari sampel beku ACD ( bila sampel
dikirim) jika anemia, gunakan - > packed cells < air
2.
Kemudian SDM dicuci dengan larutan 9 g/l, SDM dilisiskan dengan air dan ccl4
atau dengan freezing dan thawing
3.
Ditambahkan ccl4 sentrifuge 3000 rpm selama 30 menit pindahkan
lautan yang jernih Hb diaduk sampai 100g/l
C. Pasca Analitik :
Sampel darah akan diproses oleh mesin. Hasilnya
biasanya tersedia setelah 1-2 hari.
o
Risiko :
Hemoglobin elektroforesis dianggap
sebagai prosedur yang aman. Namun, beberapa masalah dapat terjadi dengan
memiliki darah diambil, termasuk: pingsan atau perasaan pusing, hematoma (Darah
mengumpulkan bawah kulit yang menyebabkan benjolan atau memar), rasa sakit yang
terkait dengan beberapa tusukan untuk mencari vena Membantu Anak Anda Memiliki
tes darah relatif tanpa rasa sakit. Namun, banyak anak yang takut jarum.
Menjelaskan tes dalam hal anak Anda dapat memahami mungkin membantu mengurangi
beberapa rasa takut. Biarkan anak Anda untuk meminta teknisi pertanyaan ia
mungkin memiliki. Beritahu anak Anda untuk mencoba untuk bersantai dan diam
selama prosedur, seperti yang menegangkan otot dan bergerak dapat membuat lebih
sulit dan lebih menyakitkan untuk mengambil darah. Hal ini juga dapat membantu
anak Anda untuk berpaling ketika jarum yang dimasukkan ke dalam kulit.
Hasil normal pada bayi dan anak-anak
Kadar hemoglobin yang normal pada anak-anak, adalah:
Hb F (neonatal): 50% – 80%
Hb F (6 bulan): 8%
Hb F (>6 bulan): 1% – 2%
Hasil normal pada orang dewasa Kadar
hemoglobin yang normal pada orang dewasa, adalah:
Hb A: 95% – 98%
Hb A2: 2% – 3%
Hb F: 0.8% – 2%
Hb S: 0%
Hb C: 0%
“Tes Fe Serum dan TIBC
“
A. Pra
Analitik :
o
Persiapan Pasien : Tidak ada persiapan
khusus untuk pemeriksaan
o
Pengambilan Spesimen : Pengambilan
specimen di vena cubiti
o
Prinsip : serum ditambahkan kelebihan
besi (ferri klorid). Besi yang tidak terikat transferin akan diabsorbasi oleh
magnesium carbonate, kemudian kadar besi serum diukur
o
Alat dan Bahan :
Alat
:
a) Spektrofotometer
b) Centrifuge
c) Spuit
3 cc
d) Torniquet
e) Tabung
reaksi
f) Kapas
alkohol
g) Mikropipet
1000 ul, 20 ul
h) Tip
Bahan
:
a) Reagen
Basic magnesium carbonate
b) Saturating
solution
c) Deionizes
water
d) Hcl
e) Larutan
standar
f) Saturating
iron solution
B.
Analitik :
o
Prosedur Kerja :
1. Diambil
0,5 ml serum kemudian tambhakan 0,5 Saturating iron solution campurkan dan
diamkan selama 15 menit pada suhu ruang
2. Ditambahkan
100mg magnesium carbonate kemudian dikocok diamkan selama 30 menit sekali-kali
dikocok
3. Disentrifuge
13.000 g selama 4 menit
4. Diambil
0,5 ml supernatant
5. Diamati
C. Pasca Analitik :
o
Laki – laki
Dewasa : 2,6 – 3,9 mg/L
= 46,5 – 69,8 umol/L
= 260 – 390 ug/dL
o
Wanita
dewasa : 2,1 – 3,4 mg/L
= 37,6 – 60,9
umol/L
= 210 – 340 ug/dL
o
Nilai Rujuk
: 47 – 70 umol/L
“Aspirasi
Sumsum Tulang”
a. Pra Analitik
·
Persiapan pasien: Diberitahukan kepada pasien
langkah-langkah yang akan dilakukan,
melakukan pemeriksaan darah lengkap, apusan darah tepi, faktor pembekuan darah seperti
prothrombin time, INR, APTT untuk memastikan tidak ada resiko perdarahan data
prosedur dilakukan.
·
Persiapan sampel: disimpan satu minggu
pada 40C.
·
Prinsip: P4ereaksi asam-basa yang saling
berikatan antara cat dengan sel darah,
sesuai dengan sifat pH dari setiap sel yang terdapat pada sel-sel darah
tersebut. Giemsa pada dasarnya merupakan gabungan dari dua macam cat yaitu
methylene blue dan eosin dimana methylene blue bersifat basa akan berikatan
dengan bagian sel yang bersifat asam dan memberikan warna biru sedangkan eosin
yag bersifat asam akan mewarnai bagian sel yang bersifat basa.
·
Alat dan bahan
Alat : Objek glass, Pipet tetes, Cawan
petri, Rak tabung, dan Mikroskop
Bahan: Sampel sumsum tulang, Tabung
darah, Metanol, dan Giemsa
b. Analitik
·
Pembuatan preparat spread (sebar)
-
Siapkan alat dan bahan yang akan
digunakan
-
Letakkan objek glass di cawan petri
dengan cara dimiringkan
-
Teteskan 3-4 tetes sampel sumsum tulang
di atas objek glass tersebut
-
Diambil bagian fragmen menggunakan ujung
objek glass yang baru
-
Buat apusan di atas objek glass yang
lain
-
Keringkan kemudian fiksasi dengan
methanol selama 5-10 menit
·
Pembuatan preparat squash (tekan)
-
Siapkan alat dan bahan yang akan
digunakan
-
Letakkan objek glass di cawan petri
dengan cara dimiringkan
-
Teteskan 3-4 tetes sampel summsum tulang
di atas objek glass tersebut
-
Letakkan di atas objek glass baru
-
Ratakan dan tekan kemudian geser secara
datar sampai ujung objek glass dengan cepat
-
Keringkan kemudian fiksasi dengan
methanol selama 5-10 menit
·
Pewarnaan giemsa
-
Genangi sediaan dengan larutan kerja
gie4msa selama 20-30 menit
-
Sisa cat dibuang kemudian cuci dengan
air mengalir
-
Keringkan dan periksa di bawah mikroskop
c. Pasca Analitik
·
Normoselluler : volume lemak 20% dari sel
hemapoietik
·
Hyposelluler : sel hemapoietik diganti oleh
sel lemak
·
Hyperselluler : hampir semua lemak diaganti oleh
sel hemapoietik
“Tes
Darah Rutin”
a.
Pra
Anaitik
·
Persiapan pasien : Tidak ada persiapan
pasien
·
Persiapan sampel : Darah EDTA 10%
·
Prinsip : Impedance berupa larutan
elektrolit (dilluent) yang telah dicampur dengan sel-sel darah melalui
aperture, hambatan antara kedua elektroda tersebut akan naik sesaat dan terjadi
perubahan tegangan yang sangat kecil sesuai dengan nilai tahanannya.
·
Alat dan bahan : Hematologi analyer,
Tabung reaksi, dan Rak tabung
b.
Analitik
·
Disiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan.
·
Dihidupkan UPS, ditekan main power yang
terletak pada bagian belakang alat, sehingga lampu indikator main power menyala.
·
Ditekan tombol power yang terdapat pada
bagian depan alat, alat akan secara otomatis melakukan cleaning dan priming.
·
Ditunggu sampai alat siap digunakan.
·
Dilakukan pembacaan kontrol.
·
Dimasukkan data pasien pada
computer/display lalu dikirim data tersebut ke alat.
·
Dipastikan darah tidak menggumpal pada
tabung dan dimasukkan sampel pada rak tabung sesuai data pasien yang telah
diinput, kemudian tekan tombol start dan akan dilakukan analisa oleh alat.
·
Hasil akan dikeluarkan dalam bentuk
print out.
c.
Pasca
Analitik
·
Eritrosit
Wanita
: 4 juta-5 juta/ul darah
Pria
: 4,5 juta-5,5 juta/ul darah
·
Hemoglobin
Wanita
: 12-14 g/dl
Pria
: 14-16 g/dl
·
Hematokrit
Wanita : 38-46%
Pria : 40-54%
·
Leukosit : 5 juta-1 juta/ul darah
·
Trombosit : 150.000-400.0004/ul darah
·
Laju endap darah
Wanita : <15
Pri : <10
·
Indeks eritrosit
MCH : 7-31 pg
MCV : 80-96 fl
MCHC : 32-36
g/dl
“TES
KADAR ASAM FOLAT/VITAMIN B12 PLASMA”
A.
Pra
Analanitik
1. Persiapan
pasien
Pasien tidak dapat menerima
suntikan vitamin B-12 intramuskular tiga hari sebelum tes. Meskipun pasien
mungkin minum air putih, pasien harus menghindari makanan selama delapan jam
sebelum tes. Pasien kemudian bisa makan normal setelah tes.
2. Persiapan
sampel
a. Untuk
orang dewasa :
1) Pada
hari ke 1, buang air kecil ke toilet setelah bangun tidur. Kumpulkan semua urin
dalam wadah bersih selama 24 jam berikutnya.
2) Pada
hari ke 2, buang air kecil ke wadah yang sama setelah bangun. Tutup wadah
dan beri label dengan nama dan tanggalnya. Simpanlah itu dan simpan di tempat
dingin sampai pasien bisa mengembalikannya ke dokter.
b. Untuk
bayi.
1) Jika
petugas perlu mengumpulkan sampel urin 24 jam pada bayi, ikuti langkah -
langkah ini:
2) Cuci
daerah sekitar alat kelamin bayi.
3) Tempatkan
tas koleksi urin pada bayi, dan kencangkan pita perekat.
4) Tempatkan
popok pada bayi, tutup tas koleksi.
5) Periksa
bayi secara teratur dan ganti tas setiap kali buang air kecil di dalamnya.
6) Tiriskan
urin ke dalam wadah bersih
7) Kirimkan
kontainer ke dokter segera setelah Anda mengumpulkan jumlah urine yang
dibutuhkan.
B.
Analitik
1. μg
radiolabel dari vitamin B12 diberikan secara oral ke pasien puasa.
2. jam
kemudian 1000 μg vitamin B12 yang tidak berlabel diberikan secara
intramuskular.
3. Injeksi
imtramuskular keluar sekitar 1/3 dari vitamin B12 radioaktif yang diserap ke
dalam urin dengan 24 jam berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar