Sabtu, 18 April 2020

MAKALAH THALASEMIA

         


MAKALAH HEMATOLOGI III
(THALASEMIA)


OLEH :

                        Nama              : Agnes Gloria Rehy
                        Nim                 : 18 3145 353 102
                        Kelas               : 2018 C


PROGRAM STUDI D-IV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
MAKASSAR
2020


         



KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Talasemia  ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Hematologi III. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.




                                                                                         Makassar, 18 April 2020
                                                                                 Penyusun



         Agnes Gloria Rehy











DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang  .............................................................................
B.     Tujuan  ...........................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Talasemia   ...................................................................
B.     Etiologi Talasemia   .......................................................................
C.     Jenis talasemia Hemoglobin  ..........................................................
D.    Struktur Hemaglobin  ....................................................................
E.     Klasifikasi ......................................................................................
F.      Patofisiologi ...................................................................................
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan  ...................................................................................
B.     Saran  .............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA





 











BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Thalasemia merupakan penyakit hemolitik atau kurangnya kadar hemoglobin  yang disebabkan oleh defisiensi pembentukan rantai globin Alpha atau Betha yang menyusun hemoglobin. Berdasarkan defisiensi pembentukan rantai globin tersebut  maka Thalasemia dibedakan menjadi Thalasemia Alpha dan Thalasemia Betha Berdasarkan gejala klinis Thalasemia dikategorikan menjadi dua yaitu Thalasemia minor dan Thalasemia Mayor (Esti Suryani, 2015)
Thalassemia ini diturunkan berdasarkan hukum Mendel, di mana bila ada dua orang pembawa sifat yang menikah, maka kemungkinan berpeluang mempunyai 25% anak yang sehat, 50% anak pembawa sifat dan 25% penderita thalassemia mayor. Peluang tersebut bisa terjadi di setiap kehamilan jadi bisa saja dalam satu keluarga ditemukan lebih dari satu orang atau semua anaknya sebagai penderita thalassemia mayor. Ataupun semua anaknya tampak sehat karena tidak memberikan gejala sama sekali akan tetapi belum tentu sehat, karena mereka tetap berpeluang sebagai pembawa sifat. (Esti Suryani, 2015)
Gejala yang tampak pada penderita thalassemia, khususnya thalassemia mayor adalah tampak pucat, bentuk wajah khas, ditemukan kondisi kuning di mata dan kulit, adanya gangguan pertumbuhan dan perut tampak membesar karena pembesaran limpa. Organ limpa yang membesar akibat dari kompensasi dari anemia yang sudah lama berlangsung (kronis), di mana limpa sebagai organ yang bekerja keras membantu kerja tulang untuk membentuk sel darah merah. (Esti Suryani, 2015)
Kelainan genetik (bawaan) yang terjadi pada thalassemia ini, yaitu berupa tidak terbentuk atau berkurangnya satu rantai globin baik itu á maupun ß yang merupakan komponen penyusun utama molekul hemoglobin normal berdasarkan hal tersebut thalassemia diklasifikasikan sebagai thalassemia á dan thalassemia ß. Namun secara klinis, thalassemia dibagi menjadi: 1). Thalassemia mayor, di mana penderita memerlukan transfusi darah seumur hidupnya; 2). Thalassemia intermedia, bila pasien membutuhkan transfusi tapi tidak rutin, dan; 3). Pembawa sifat thalassemia (carrier) atau thalassemia minor, bila tanpa gejala dan secara kasat mata tampak normal. (Esti Suryani, 2015)
B.  Tujuan
1.      Untuk dapat mengetahui dan Untuk mengetahui Struktur Molekul Hemoglobin
 serta memahami apa itu talasemia serta etiologinya






























BAB II
PEMBAHASAN
A.      Defisni Thalasemia
Talasemia adalah sekelompok penyakit/kelainan herediter yang heterogen disebabkan oleh adanya defek produksi hemeglobin normal, akibat kelainan sintesis  rantai globin dan biasanya disertai kelainan morfologi eritrosit dan indeks-indeks eritrosit. terdapat dalam sel darah merah. Hemoglobin terdiri dari dua gugus molekul yaitu heme dan globin. Heme adalah pirol yang memiliki poros atom Fe, sedangkan globin diatur oleh dua varian molekul yang menyusun satu molekul Hb Yaitu α dan ß. Ketiga molekul ini memiliki variasi yang sangat kecil, namun memiliki sifat yang sangat berbeda. Jika salah satu rantai tidak terbentuk pada waktunya maka terjadilah talasemia. (Joyce Regar, 2009)
Talasemia adalah penyakit genetik yang diturunkan secara autosomal resesif menurut hukum Mendel dari orang tua kepada anak-anaknya. Penyakit talasemia meliputi suatu keadaan penyakit dari gejala klinis yang paling ringan (bentuk heterozigot) yang disebut talasemia minor atau talasemia trait (carrier/pengemban sifat) hingga yang paling berat (bentuk homozigot) yang disebut talasemia mayor. Bentuk heterozigot diturunkan oleh salah satu orang tuanya yang mengidap penyakit talasemia, sedangkan bentuk homozigot diturunkan oleh kedua orang tuanya yang mengidap penyakit talasemia. Permasalahan talasemia akan muncul jika talasemia trait kawin dengan sesalmanya sehingga kemungkinan yang bisa terjadi adalah 25% dari keturunannya menurunkan talasemia mayor, 50% anak mereka menderita talasemia trait dan hanya 25% anak mempunyai darah normal.Umumnya penderita talasemia minor tidak merasakan gejala apapun. Hanya kadang-kadang mengalami anemia kekurangan zat besi ringan. Berbeda dengan talasemia minor, anak yang menderita talasemiamayor perlu mendapat perhatian juga perawatan khusus karena di dalam tubuhnya tidak tersedia hemoglobin dalam jumlah cukup diakibatkan sumsum tulangnya tidak dapat memproduksi sel darah merah dalam kadar yang dibutuhkan.
 (Joyce Regar, 2009)
Molekul globin terdiri atas sepasang rantai-α dan sepasang rantai lain yang menentukan jenis Hb . Pada orang normal dewasa terdapat tiga jenis Hb, yaitu Hb A (merupakan > 96% dari Hb total, tersusun dari dua rantai-α dan dua rantai-ß = α2ß2), Hb F(< 2% = α2γ2) dan HbA2 (< 3% = α2δ2). Kelainan produksi dapat terjadi pada rantai-α (α-thalassaemia), rantai-ß (ß-thalassaemia), rantai-γ (γ-thalassaemia), rantai-δ (δ-thalassaemia), maupun kombinasi kelainan rantai-δ dan rantai-ß (ßδ-thalassaemia). (Joyce Regar, 2009)
Pada thalassemia-ß, kekurangan produksi rantai-ß menyebabkan kekurangan pembentukan HbA (α2ß2); kelebihan rantai-α ini akan berikatan dengan rantai-γ yang secara kompensatoir menyebabkan Hb Fmeningkat; sisanya dalam jumlah besar diendapkan pada membran eritrosit sebagai Heinz bodies dengan akibat eritrosit mudah rusak (ineffective erythropoesis).Pada talasemia-α, berkaitan dengan ketidakseimbangan sintesis rantai α dan rantai non-α (ß, γ,atau δ). Rantai non-α yang Tidak mempunyai pasangan akan membentuk agregat yang tidak stabil, yang merusak sel darah merah dan prekursornya. (Joyce Regar, 2009)

B.  Jenis-jenis Thalasemia
Menurut Joyce Regar, 2009 Tahlasemia Secara molekuler talasemia dibedakan atas:
·         Talasemia-α (gangguan pembentukan rantai α).
·          Talasemia-ß (gangguan pembentukan rantai ß)
·         Talasemia-ß-δ (gangguan pembentukan rantai ß-δ yang letak gennya diduga berdekatan).
·         Talasemia-δ (gangguan pembentukan rantai δ).Talasemia-α Talasemia-α pertama kali di laporkan di Amerika Serikat dan Yunani tahun 1955 dan dikenal sebagai penyakit hemoglobin H. Terdapat dua globin α yang berhubungan erat dalam kromosom 16. Dengan demikian terdapat empat gen globin α per selnya.Talasemia-α di tandai dengan penurunan sintesis rantai α globin karena delesi salah satu sampai keempat gen α globin yang seharusnya ada.Kelainan genetik pada talasemia-α 11,12 Talasemia α dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
a. Talasemia-α tipe delesi
b. Talasemia-α tipe nondelesi
Talasemia-α tipe delesi Ditandai oleh delesi (kehilangan) gen α. Delesi gen α dapat terjadi karena persilangan yang tak seimbang (unequal crossover) yang dapat menghilangkan satu atau bahkan dua gen α dengan halotip dan Gejala klinis yang timbul tergantung pada jumlah gen α yang utuh (intact), mulai dari yang paling ringan (hampir normal) pada α-Thal-2 sampai yang paling berat pada hydrops fetalis, dimana bayi lahir mati  atau sesaat sesudah lahir.


C. Ciri Talasemia-α dan Kelainan Hemoglobin H
Delesi dua gen α globin baik di kromosom yang sama atau satu dari masing- masing kromosom. Kedua pola genetik Tersebut secara klinis identik, tetapi posisi gen yang hilang membuat perbedaan  terjadinya talasemia-α yang parah (penyakit HbH atau hydrops fetalis) pada keturunan.( Joyce Regar, 2009)
Menurut Joyce Regar, 2009 Kelainan Hemoglobin  yaitu :
Delesi tiga dari empat gen α-globin, mengakibatkan sintesis rantai α sangat tertekan dan membentuk tetramer yang tak stabil dari kelebihan ß-globin (HbH). Secara klinis, penyakit HbH menyerupai ß-thalassaemia intermedia.
Ø  Sindrom hydrops fetalis Hb Barts
Delesi keempat gen α-globin. Pada fetus kelebihan rantai γ-globin membentuk tetramer (Hb Barts) yang mempunyai afinitas terhadap oksigen.Talasemia-ß 2,7 Talasemia-ß pertama kali di laporkan oleh Cooley pada tahun 1925. Penyakit ini ditandai oleh berkurangnya sintesis ß globin. Gen talasemia-ß disebut ßT. Berbeda dengan gen α, tiap kromosom hanya mengandung satu gen ß. Bentuk ini lebih heterogen dibandingkan dengan talasemia-α, tetapi untuk kepentingan klinis umumnya dibedakan antara ß0-Thalassaemia dan ß+-thalassaemia. Pada ß0-thalassaemia tidak dibentuk rantai globin sama sekali, sedangkan pada ß+-thalassaemia terdapat pengurangan (10-50%) daripada produksi rantai globin ß tersebut

Kelainan genetik pada talasemia -ß 
 dengan talasemia α, talasemia- ß lebih banyak disebabkan oleh mutasi,

walaupun diketahui ada dua bentuk talasemia-ß yang disebabkan oleh persilangan tak seimbang. Keadaan ini dapat menyebabkan delesi sebagian dari gen β atau menimbulkan gen gabungan (fusion genes) δβ dimana keduanya menghasilkan fenotip Thal-β. Hemoglobin yang dihasilkan oleh genbgabungan δß disebut Hb Lopore.
Ø  Talasemia ß karena mutasi titik
Mutasi titik dapat terjadi pada berbagai tempat dan menimbulkan akibat yang berbeda-beda .Klasifikasi klinis talasemia-ß Berdasarkan pada tingkat keparahan anemia, dengan melihat defek genetik (ß+atau ß0) serta jumlah gen (homozigot atau heterozigot).
Ø  Talasemia mayor
Penyakit ini paling sering di Negara Mediterania dan di beberapa bagian Afrika serta Asia Tenggara. Keadaan ini menimbulkan salah satu dari dua sindrom; 1) ditandai dengan anemia berat biasa￾nya timbul antara bulan kedua dan kedua belas dari kehidupan (Talasemia-ß mayor) dan 2) ditandai dengan anemia moderat yang timbul setelah usia 1-2 tahun (Talasemia-ß intermedia). Anemia  berat ini disebabkan karena kekurangan Hb A (α2ß2). Ketidakmampuan untuk memproduksi rantai ß menyebabkan adanya rantai α yang berlebihan pada tahap awal dan akhir dari eritroblas  polikromatik. Rantai α mengendap dalam sel dan mengakibatkan timbulnya gangguan terhadap berbagai fungsi sel,serta terjadi fagositosis dan degradasi dari sebagian eritroblas yang mengan￾dung endapan tersebut oleh makrofag sumsum tulang. Perjalanan penyakit talasemia mayor biasanya singkat karena bila penderita tidak didukung dengan transfusi, kematian terjadi pada usia dini akibat anemia yang berat. Transfusi darah memperbaiki anemia dan juga menekan gejala sekunder (deformitas tulang) karena eritropoiesis berlebihan. Penderita yang sering di￾transfusi akan mengalami gagal jantung akibat kelebihan besi yang progresif, dan hemokromatosis sekunder merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang penting.
Ø  Talasemia minor
Adanya satu gen normal pada individu heterozigot memungkinkan sintesis rantai ß globin yang memadai sehingga penderita biasanya secara klinis asim tomatik. Pemeriksaan apusan darah tepiseringkali menunjukkan anemia ringan dengan derajat bervariasi. Biasanya terdapat abnormalitas yang khas dari morfologi sel darah merah. Umumnya hemoglobin yang ditemukan adalah Hb A, dan yang khas proporsi Hb A2 (α2δ2) meningkat dengan nilai kira-kira 4-7% dari total hemoglobin, tidak seprti halnya dengan angka normal, yaitu sekitar 2-3%. Pengenalan ciri Talasemia-β penting untuk konseling genetik. Selain itu juga perlu didiagnosis banding dengan anemia mikrositik hipokromik akibat defisiensi besi.
Ø  Talasemia intermedia
Ditandai oleh gambaran klinis dan derajat keparahan yang berada di antara bentuk mayor dan minor. Penderita ini secara genetik bersifat heterogen. Umumnya penderita dengan kelainan ini cukup sehat dan hanya membutuhkan transfusi darah pada saat terjadinya infeksi.Talasemia-δ dan -γ Kelainan ini disebabkan oleh delesi gen δ atau gen γ. Mekanisme terjadinya diperkirakan karena persilangan yang tidak seimbang. Talasemia-δ dan γ tidak menimbulkan gejala-gejala klinis (asimtomatik) sehingga sulit dikenal. Talasemia-δ ditandai dengan ketidakadaan Hb A2 (homozigot) atau kadar Hb A2 yang lebih rendah dari normal (heterozigot). Talasemia-γ ditandai dengan delesi gen G-γ disertai adanya gen gabungan G-γ/A-γ. Gejala satu-satunya adalah kadar Hb F yang lebih rendah pada darah tali pusat (cord blood). Pada penderita dewasa hanya dijumpai Hb F (tanpa Hb A dan Hb A2) dalam kadar yang lebih rendah dibanding dengan penderita Thal-F.
D. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi thalassemia mencakup mutasi atau delesi pada gen untuk rantai globin alfa ataupun beta. Hemoglobin pada dewasa terdiri dari bentuk A, A2 dan F (fetal). Hemoglobin A (HbA) mencakup 95-98% dari seluruh jumlah hemoglobin pada tubuh dan terdiri dari tetramer yang terbuat dari 2 subunit globin alfa dan 2 subunit globin beta. Hemoglobin A2 (HbA2) mencakup mayoritas dari sisa hemoglobin yang ada (<3.3%) dan terdiri dari 2 subunit globin alfa dan 2 subunit globin delta. <1% dari hemoglobin adalah hemoglobin F (HbF) dan terdiri dari 2 subunit globin alfa dan 2 subunit globin gamma.
Pada saat perkembangan fetus, proses eritropoiesis awalnya terjadi pada hati, kemudian ke limpa dan pada usia pertengahan kehamilan mulai beralih ke sumsum tulang. Pada usia kehamilan 6-10 minggu mayoritas dari hemoglobin yang ada pada bayi adalah HbF, mayoritas dari rantai globin yang dibentuk adalah subunit globin alfa dan subunit globin fetal. Pada sekitar usia 30 minggu, jumlah pembentukan rantai globin fetal mulai menurun dan jumlah rantai globin beta meningkat sehingga jumlah HbF menurun dan HbA meningkat. Setelah lahir, jumlah pembentukan HbF akan terus menurun dan HbA akan meningkat sehingga 95-98% dari Hb di tubuh adalah HbA
Thalassemia terjadi apabila terdapat kelainan pada gen yang mempengaruhi produksi rantai globin sehingga produksi Hb menurun. Kelainan pembentukan rantai globin yang paling sering terjadi terkait dengan globin alfa dan globin beta dan menyebabkan thalassemia alfa dan thalassemia beta. Terdapat beragam genotip dan gambaran klinis thalassemia.
Gen untuk globin alfa terdapat pada kromosom 16 dan terduplikasi sehingga pada setiap sel somatik terdapat 4 kopi gen rantai alfa pada setiap pasangan kromosom homolog. Gen untuk globin beta, gamma, dan delta terdapat pada kromosom 11 dan tidak terduplikasi. Banyak heterogenisitas dari thalassemia alfa dan beta. Kedua dari penyakit ini diturunkan secara autosomal resesif dari orang tua.
Secara umum pada kedua jenis thalassemia alfa dan beta terdapat kelainan pada proses eritropoiesis dimana terbentuk jumlah sel darah merah yang kurang dan yang terbentuk pun juga tidak berbentuk sempurna. Eritrosit yang terbentuk pada thalassemia memiliki kelainan pada struktur membran dan permeabilitasnya sehingga mudah rusak. Eritrosit pada thalassemia memiliki jumlah HbA yang kurang sehingga terbentuklah hemoglobin jenis lainnya. Hemoglobin jenis lain tersebut lebih rentan terhadap stres oksidatif dan mudah membentuk presipitat sehingga terbentuk badan inklusi, badan Heinz, dan badan Howell Jolly. Pada saat eritrosit rusak terjadi gejala kuning dan pembesaran limpa. Eritropoiesis yang terjadi juga tidak dapat terjadi dengan baik sehingga perlu dilakukan secara berlebihan dan menyebabkan abnormalitas dan hiperoplasia tulang.
D.ALUR DIAGNOSTIK

Gambar.3. Alaur Diagnostik
Diagnosis kerja pertama kali pada pasien ini adalah thalassemia berdasarkan adanya gejala pucat, pembesaran hati dan limpa, serta kadar Hb, nilai MCV dan MCH yang rendah, ditemukan tanda-tanda hemolisis, namun tak ditemukan badan inklusi HbH. Pada analisis Hb ditemukan kadar HbA2 normal sedangkan HbF sedikit meningkat. Diagnosis
FM thalassemia agak terlambat ditegakkan karena barupada saat analisis Hb terakhir ditemukan adanya HbBart’s, berdasarkan gambaran grafik analisis Hb, ( Dina.2006)
      Analisis DNA sangat diperlukan untuk menemukan mutasi yang terjadi, karena kedua orangtuanya tidak ada yang menunjukkan pembawa sifat thalassemia yang berat dengan kadar MCV mendekati nilai normal (78 dan 79,3fL). Keadaan seperti ini biasanya
disebabkan oleh adanya mutasi titik. Analisis DNA menunjukkan adanya mutasi heterozigot ganda yaitu mutasi pada mutasi titik pada kodon 59 dan mutasi titik IVS2-nt142. Mutasi pada kodon 59 diturunkan dari ayah sedangkan mutasi titik IVS2-nt142 diturunkan dari ibu pasien, ( Dina.2006)
      Mutasi di kodon 59 mengakibatkan perubahan asam amino glisin menjadi aspartat (GGCglisin GACaspartat) dan menghasilkan varian hemoglobin yang sangat tidak stabil. Gambaran klinis yang dapat terjadi pada mutasi ini adalah mulai dari thalassemia intermedia atau mayor, bahkan hidrops fetalis. Mutasi ini dilaporkan juga di Turki, Cina, Israel, dan Indonesia. Mutasi IVS2-nt142 mempengaruhi proses RNA (splice acceptor consensus sequence) yaitu adanya perubahan sekuens dari AG menjadi AA. Mutasi ini dilaporkan pada dua orang pasien di Argentina yaitu seorang ibu dan putrinya. Sang ibu menderita anemia, ikterus, dan hepatosplenomegali. Mutasi yang terjadi pada ibu adalah mutasi pada IVS2- nt142 dan mutasi delesi dua gen. Sedangkan anaknya tidak mempunyai gejala klinis dan hanya mempunyai mutasi IVS2-nt142 saja, ( Dina.2006)
Kasus ini merupakan kasus pertama yang mempunyai mutasi heterozigot ganda pada kodon 59 dan IVS2-nt142. Gejala klinis pada pasien ini adalah thalassemia mayor diakibatkan adanya mutasi kodon 59 yang menghasilkan varian hemoglobin yang tidak Prognosis penyakit HbH sangat bervariasi, namun secara umum prognosis cukup baik; banyak pasien yang dapat hidup sampai dewasa. Walaupun demikian kasus ini memberikan informasi penting, bahwa dapat memberikan gejala anemia berat pada masa bayi. stabil (HbAdana) disertai adanya mutasi titik pada IVS2-nt142, ( Dina.2006).
E. Etiologi
Penyakit thalassemia adalah penyakit keturunan yang tidak dapat ditularkan.banyak diturunkan oleh pasangan suami isteri yang mengidap thalassemia dalam sel – selnya/ Faktor genetik (Suriadi, 2001). Thalassemia bukan penyakit menular melainkan penyakit yang diturunkan secara genetik dan resesif. Penyakit ini diturunkan melalui gen yang disebut sebagai gen globin beta yang terletak pada kromosom 11. Pada manusia kromosom selalu ditemukan berpasangan. Gen globin beta ini yang mengatur pembentukan salah satu komponen pembentuk hemoglobin. Bila hanya sebelah gen globin beta yang mengalami kelainan disebut pembawa sifat thalassemia-beta.Seorang pembawa sifat thalassemia tampak normal/sehat, sebab masih mempunyai 1 belah gen dalam keadaan normal (dapat berfungsi dengan baik). Seorang pembawa sifat thalassemia jarang memerlukan pengobatan. Bila kelainan gen globin terjadi pada kedua kromosom, dinamakan penderita thalassemia (Homozigot/Mayor). Kedua belah gen yang sakit tersebut berasal dari kedua orang tua yang masing-masing membawa sifat thalassemia. Pada proses pembuahan, anak hanya mendapat sebelah gen globin beta dari ibunya dan sebelah lagi dari ayahnya. ( Dina.2006)
Bila kedua orang tuanya masing-masing pembawa sifat thalassemia maka pada setiap pembuahan akan terdapat beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama si anak mendapatkan gen globin beta yang berubah (gen thalassemia) dari bapak dan ibunya maka anak akan menderita thalassemia. Sedangkan bila anak hanya mendapat sebelah gen thalassemia dari ibu atau ayah maka anak hanya membawa penyakit ini. Kemungkinan lain adalah anak mendapatkan gen globin beta normal dari kedua orang tuanya. ( Dina.2006)

BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
Talasemia adalah sekelompok penyakit/kelainan herediter yang heterogen disebabkan oleh adanya defek produksi hemeglobin normal, akibat kelainan sintesis  rantai globin dan biasanya disertai kelainan morfologi eritrosit dan indeks-indeks eritrosit. terdapat dalam sel darah merah. Hemoglobin terdiri dari dua gugus molekul yaitu heme dan globin. Heme adalah pirol yang memiliki poros atom Fe, sedangkan globin diatur oleh dua varian molekul yang menyusun satu molekul Hb Yaitu α dan ß. Patofisiologi thalassemia mencakup mutasi atau delesi pada gen untuk rantai globin alfa ataupun beta. Hemoglobin pada dewasa terdiri dari bentuk A, A2 dan F (fetal). Hemoglobin A (HbA) mencakup 95-98% dari seluruh jumlah hemoglobin pada tubuh dan terdiri dari tetramer yang terbuat dari 2 subunit globin alfa dan 2 subunit globin beta. Hemoglobin A2 (HbA2) mencakup mayoritas dari sisa hemoglobin yang ada (<3.3%) dan terdiri dari 2 subunit globin alfa dan 2 subunit globin delta. <1% dari hemoglobin adalah hemoglobin F (HbF) dan terdiri dari 2 subunit globin alfa dan 2 subunit globin gamma.
B.     SARAN
Sebaiknya kita harus Melakukan pemeriksaan Thalasemia agar dapat lebih mengerti dan bukan hanaya mempelajari teorinya









DAFTAR PUSTAKA
Joyce Roger. 2009.”Aspek Genetik Talasemia”Vol. 1 No. 3
Muktiarti, Dina.2006.”Thalassemia Alfa Mayor dengan Mutasi Non-Delesi Heterozigot Ganda”vol.8 No.3

Salsabila,Neli dkk .2019.Nutrisi Pasien Thalassemia”Vol.8 No.1.Mahasiswa,Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Salam, Abdul dkk. 1994.”Genetik”Yogyakarta: Andi Offset.

Suryani1, Esti dkk. 2016.”Identifikasi Anemia Thalasemia Betha (𝜷) Berdasarkan Morfologi Sel Darah Merah Mayor”Vol.2. No.1. 1,2,3Riset Group Ilmu Rekayasa dan Komputasi, Informatika, FMIPA, Universitas


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar