Senin, 25 Mei 2020

PEMERIKSAAN G6PD


 LAPORAN HEMATOLOGI III

"PEMERIKSAAN G6PD"

 

 

 





  NAMA : Agnes Gloria Rehy

         NIM : 18 3134 353 102

KELAS : 2018/C


 


 

 

 

PROGRAM STUDI D-IV TEKNOLOGI LBORTORIUM MEDIS

FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA

UNIVERSITAS MEGA RESKY MAKASSAR

2020

 

 

 

 











BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD) adalah penyakit genetik terpaut kelamin yang telah menyerang kurang lebih 400 juta orang di seluruh dunia dan mempunyai frekuensi. yang tinggi di Afrika, Mediterranean, dan populasi Asia yang merupakan wilayah endemik malaria (Teresa Liliana,2010)

       Defisiensi Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim pertama dalam jalur (pathway) pentosa fosfat pada metabolisme glukosa. Defisiensi mengurangi energi reduktif dari eritrosit dan mungkin menimbulkan hemolisis, yang beratnya tergantung pada kuantitas dan tipe G6PD serta sifat zat hemolitik (biasanya mediator oksidasi-reduksi) ,(Avelina, 2019).

        Studi aspek genetik dari penyakit defisiensi G6PD penting untuk menentukan apakah seseorang akan menderita penyakit ini. Gen G6PD terdapat pada lokus q28 kromosom X dan merupakan penyakit genetik bersifat resesif-terpaut kelamin yang lebih banyak diderita oleh pria daripada wanita. Penyakit akibat defisiensi G6PD pada wanita akan muncul bila terdapat dua kopi gen yang defektif dalam genomnya. Selama terdapat satu kopi nor-mal genG6PD pada seorang wanita akan diproduksi enzim. normal sehingga wanita tersebut hanya seorang karier (pembawa sifat) dengan fenotipe normal. Pada pria hanya terdapat satu kromosom X sehingga satu gen yang defe. (Teresa Liliana,2010)

       Gen G6PD pada manusia berukuran 18.500 pb, mempunyai 13 exon, 12 'coding' exon, 2269 nukleotida mRNA, dan 515 asam amino Struktur 3 dimensi yang lengkap dari enzim ini belum dapat ditentukan. G6PD adalah bentuk enzim yang aktif, terbentuk dari dua atau empat subunit.yang identik. dengan berat molekular masing-masing subunit sekitar 59 kilo Dalton. (Teresa Liliana,2010)

       Oleh karena itu yang melatar belakangi praktilum kali agar kita sebagai Maha siswa atau maha siswi dapat mengetahui apa yang di maksud dari G6PD dan prinsip dari pemeriksaan ini

B.  Tujuan Praktikum

       Untuk dapat mengatahui proses kerja G6PD dan memahami prinsip kerja dari pemeriksaan ini

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

       Dalam penyakit G6PD memperlihatkan kerusakan molekular pada berbagai varian G6PD. Perubahan dari A menjadi G pada nukleotida 376 pada exon 5 menyebabkan subtitusi dari asparagin menjadi asam aspartat pada posisi asam amino 126. Peru~ahan tersebut berkaitan dengan kecepatan elektroforesis yang lebih besar pada varian A dan A- ( varian yang umum di Afrika) dibandingkan varian B (normal). Mutasi kedua pada varian A- yaitu perubahan G menjadi A pada nukleotida. 202 pada exon 4 yang melibatkan substitusi valine oleh methionine pada asam amino ke 28 dan diduga berkaitan dengan penurunan kestabilan enzim G6PD. (Teresa Liliana,2010)

G6PD adalah salah satu kelainan yang diturunkan terpaut pada kromosom X . Diperkirakan defisiensi G6PD ditemukan pada sekitar 400 juta penduduk di seantero dunia terutama pada daerah tropis, serta banyak ditemukan pada kelompok laki-laki dibandingkan perempuan. Berdasarkan kriteria WHO 1989, defisiensi G6PD diklasifikasikan dalam lima kelompok yaitu: klas I adalah varian yang dapat menyebabkan terjadinya chronic non-spherocytic hemolytic anemia, klas II dan III adalah varian yang ditandai dengan menurunnya aktivitas enzim, klas IV varian dengan aktivitas enzim normal, serta klas V varian dengan aktivitas enzim yang berlebihan. Manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada keadaan defisiensi adalah icterus neonatorum pada bayi baru lahir, dan anemia hemolitik akut terutama pada laki-laki Walaupun klas II sampai klas V tidak menyebabkan keadaan anemia hemolitik kronis, tapi dapat terjadi anemia hemolitik akut bila terdapat faktor pencetus akibat adanya gangguan oksidasi pada infeksi dan penggunaan obat, (Josef, 2019 Vol. 1 No.5 ).

Penyakit defisiensi G6PD adalah penyakit genetik, jadi tidak menular tetapi dapat diwariskan pada keturunannya (penyakit keturunan). Pewarisan sifat keturunan yang terdapat di dalam keluarga dengan defisiensi G6PD yang bersifat resesif terkait kromosom X terutama dari kromosom X (garis ibu) sebagai pembawa. Kromosom X dan Y bertanggung jawab dalam penentuan seks atau jenis kelamin. Inti sel somatik pada pria mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y dengan tanda XY, sedangkan pada wanita mempunyai dua kromosom X dengan tanda XX. Dalam keadaan sakit ditulis Xo, sedangkan normal sebagai X atau Y. Pada penyakit defisiensi enzim ini yang menderita adalah X yang sifatnya resesif sehingga pria bila (XY) Hemizigot normal dan bila (XoY) Hemizigot penderita atau sakit. Pada wanita (XX) Homozigot normal dan (XoX) heterozigot karier atau pembawa sedangkan (XoXo) Homozigot penderita adalah sakit. (Suhartati,2010)

Aktivitas  G6PD diperlukan  oleh  eritrosit  dalam  mempertahankan keutuhannya  terhadap  pengrusakan  yang  disebab-kan oleh  peroksida  yang terbentuk  karena pemakai-an primakuin. Berdasarkan hal tersebut, maka sangat dianjurkan  untuk  melakukan  pemeriksaan  keadaan enzim  sebelum  memutuskan  memberikan  obat primakuin  pada  penderita  malaria.  Sekarang  telah dikembangkan  teknik  berupa G6PD  Assay  Kit  untuk mendeteksi  defisiensi  G6PD  yang  dapat  dilakukan cepat  dan  mudah,  karena  menggunakan  peralatan praktis  serta  dapat  dilaksanakan  di  lapangan.  Pem-bacaan  hasil  hanya  membutuhkan  waktu  lima belas menit,  yang  ditandai  dengan  adanya  perubahan warna.( Josef,2018 Vol.10.No.10)

Deteksi  defisiensi  G6PD  dilakukan  dengan menggunakan  G6PD  Assay  Kit  (Dojindo Laboratories). Prinsip  kerja  dari  assay  kit  adalah  hidrogen  dari NADPH  yang  dihasilkan  oleh  kerja  enzim  G6PD, akan  berperan  pada  konversi  2-(2-methoxy-4-nitrophenyl)-3-(4-nitrophenyl)-5-(2,-4-disulfophenyl)-2H tetrazolium  monosodium  salt  (WST-8)  menjadi  WST-8 formazan melalui kerja 1-methoxyphenazine methosulfate (1-methoxy PMS).( Josef,2018 Vol.10.No.10)

Enzim G6PD berperan sebagai enzim utama pada lintasan pentosa fosfat (PMP shunt), yang menghasilkan ekuivalen pereduksi NADPH. Pada sel eritrosit, lintasan pentosa fosfat merupakan satu-satunya lintasan yang menghasilkan NADPH berperan dalam reaksi reduksi disulfida dari glutation (GSSG) menjadi bentuk sulfhidril (GSH), suatu anti oksidan Kurangnya pembentukan NADPH pada sel eritrosit defisiensi G6PD menyebabkan lingkungan sel eritrosit bersifat oksidatif oleh karena glutathione tidak tereduksi. Parasit Plasmodium di duga rentan terhadap lingkungan sel eritrosit yang bersifat oksidatif (Josef,2018 Vol.10.N0.10)

Mutasi pada gen G6PD yang menyandi protein enzim G6PD menyebabkan defisiensi pada enzim tersebut. Enzim G6PD adalah enzim utama yang berperan dalam lintasan pentosa fosfat, yaitu suatu lintasan pada metabolisme karbohidrat yang berperan untuk menghasilkan molekul NADPH yang membantu glutathion berfungsi sebagai antioksidan. Pada penderita defisiensi G6PD, adanya stres oksidatif tambahan akan menyebabkan sel-sel eritrosit pada penderita defisiensi G6PD ini menjadi mudah lisis sehingga dapat menimbulkan keadaan anemia hemolitik akut, kronik, hiperbilirubinemia, dan gejala lainnya yang berhubungan dengan lisis sel eritrosit.Ini karena di dalam sel eritrosit satu-satunya jalan untuk pembentukan NADPH adalah melalui lintasan pentosa fosfat. Didapati penurunan resiko terinfeksi malaria pada penderita defisensi G6PD di daerah endemik malaria. (Mutiara Indah,2010)     Menurut Mutiarah Indah 2010 Rangkah dari pemeriksaan G6PD adalah berikut:

 Menurut Suhartati,2010 mutan gen G6PD berdasarkan pengukuran aktivitas enzim dan gejala klinis, sebagai berikut:

1. Klas I: jenis mutan gen G6PD yang defisiensi enzimnya sangat berat (aktivitas enzim kurang dari 10% dari normal) dengan anemia hemolitik kronis.

2. Klas II: jenis mutan gen G6PD yang defisiensi enzimnya cukup berat (aktivitas enzim kurang dari 10% dari normal) namun tidak ada anemia hemolitik kronis.

3. Klas III: jenis mutan gen G6PD dengan aktivitas enzimnya antara 10–60% dari normal dan anemi hemolitik terjadi bila terpapar bahan oksidan atau infeksi.

4. Klas IV: jenis mutan gen G6PD yang tidak memberikan anemia hemolitik atau penurunan aktivitas G6PD

5. Klas V: jenis mutan gen G6PD yang aktivitas enzimnya meningkat.

Defisiensi Enzim Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah gangguan metabolisme yang paling banyak ditemukan pada manusia dengan jumlah penderita lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia l 2008). Manifestasi klinis yang paling umum adalah anemia hemolitik akut dan penyakit kuning yang umumnya distimulasi oleh senyawa-senyawa oksidatif dalam kacang-kacangan dan obat-obatan). Defisiensi enzim ini menyebabkan produksi NADPH sebagai tenaga pereduksi dan glutation tereduksi yang dihasilkan sel darah merah lebih rendah, sehingga sel bersifat lebih oksidatif dan rentan mengalami hemolisis pada saat terpapar stress oksidatif, radikal bebas, ataupun infeksi. Mudah lisisnya sel darah merah menyebabkan parasit malaria seperti Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax tidak dapat hidup cukup lama untuk menginfeksi sel darah merah lainnya, sehingga orang-orang yaang mengalami defisiensi enzim G6PD sangat jarang terkena kasus malaria yang parah. Ironisnya penggunaan Primaquine sebagai obat radikal untuk mengobati malaria secara luas dapat menyebabkan hemolisis bila diberikan kepada individu defisiensi G6PD. Primaquine (PQ) adalah senyawa oksidatif yang berbahaya bagi individu G6PDd karena mereka tidak bisa menangkap radikal bebas atau senyawa oksidan yang dihasilkan oleh PQ. Hal ini menyebabkan oksidasi hemoglobin dalam tubuh menjadi methaemoglobin yang akan beragregasi dan mengikat protein integral membran sel darah merah dan menyebabkan hemolisis, (Ramadhian, 2013).

 

 

 

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A.  Prinsip Percobaan

Enzim G6PD mengkatalisis langkah pertama dalam jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi ke ribosa-5-fosfat dan melindungi sel terhadap stres oksidatif dalam bentuk NADPH.

B.   Alat Dan Bahan

1.  Alat

a) Tabung reaksi

b) Rak Tabung

c) Mikropipet 

d) Torniquet

e) Stopwatch

2.  Bahan

a) Spoit

b) Natrium Sitrat 3,8%

c) Plasma/Control

d) Sodium Nitrat glucose solution 0,1 

e) Alkohol swab 70%

f) Tip

g) Kertas Label

h) Pot sampel 

i) Methylene Blue 0.1 ml.

C.    Cara Kerja 

a)      Diambil darah dan di masukan kedalam tabung EDTA

b)       Diberi label pada masing- masing tabung

c)       Diberi control masing-masing kontrol1,2,dan 3

d)     Dipipet reagen 0,1 sodium nitrat glukosa solution ke masing-masing tabung

e)      Diberi Methylene Blue 0,1ml kedalam masing-masing tabung

f)        Dihomogenkan reagen dan sampel

g)       Dihomogenkan 2ml tabung yang berisi control

h)       Dicampurkan sampel darah dan reagen

i)         Dihomogenkan kembalu menggunkan tangan

j)        Dipipipet 2 ml negatif control dan di campurkan dengan reagen

k)       Diinkubasi dengan suhu 37°C selama 90 menit

l)        selanjutnya di inkubasi kembali selama 90 menit

m)     Di Homogenkan kembali

n)      Ditambahkan 2,ml  with distilled water dan di inkubasi

o)      Dimasukan sampel sebanyak 20 mikron kedalam Ve control

p)      Dihomogenkan kembali

q)      Ditambahkan 20 sampel micron pada tabung negatif control lalu homogenkan r) Ditambahkan 20 mikron liters test lalu dihomogenkan

D.    Interprestasi Hasil : 

       G6PD : Negatif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

Defisiensi G6PD merupakan sebuah kelainan genetik metabolik yang menyebabkan kadar enzim G6PD dalam darah tidak terpenuhi. Defisiensi G6PD juga merupakan salah satu penyakit defisiensi enzim yang umum terjadi.

G6PD merupakan enzim yang sangat penting untuk menjaga sel-sel darah merah agar tetap berfungsi dengan baik dan normal. Namun jika tingkat G6PD rendah maka sel darah merah akan hancur sebelum waktunya (hemolisis), dan ketika tubuh tidak mampu mengganti sel darah merah yang hancur dengan cepat tersebut, maka akan terjadi anemia hemolitik dan proses ini akan menurunkan aliran oksigen dari paru-paru ke jaringan di seluruh tubuh.

Defisiensi enzim G6PD sendiri tidak cukup untuk menyebabkan hemolisis. Diperlukan faktor pemicu untuk memulai gejala penyakit. Pemicu dapat bervariasi, termasuk penyakit infeksi tertentu, obat-obatan, dan makanan tertentu seperti kacang parang (kacang fava) yang dapat menyebabkan anemia hemolitik akut yang disebut favism. Tidak adanya faktor pemicu pada penderita defisiensi G6PD menyebabkan penderita hidup dengan normal tanpa ada gejala, bahkan terkadang penderita tidak mengetahui adanya defisiensi tersebut.

Sebagian besar dari penderita defisiensi G6PD tidak bergejala. Namun, ketika terpapar faktor pemicu, maka dapat terjadi anemia hemolitik akut, yang dapat mengancam nyawa terutama pada anak–anak.

Waktu dari gejala dialami dalam 2-3 hari setelah paparan terhadap faktor pemicu. Gejala umum dari defisiensi G6PD, yang menyebabkan anemia hemolitik, adalah sebagai berikut:

a)      Detak jantung cepat

b)      Nafas berat, sesak

c)      Warna urin lebih gelap

d)     Kelelahan berat

e)      Pucat

f)       Demam

g)      Pusing

h)      Kulit atau mata berwarna kuning (jaundice)

i)        Limpa yang membesar

j)        Gejala pencernaan seperti diare, mual dan rasa sakit atau tidak nyaman pada perut.

Sebagian besar dari penderita defisiensi G6PD tidak memerlukan pengobatan. Kondisi ini paling baik ditangani dengan menghilangkan faktor pemicu, seperti:

·         Jika pemicu utamanya disebabkan oleh infeksi maka infeksi yang mendasarinya harus dapat diobati terlebih dahulu

·         Jika pemicu utamanya disebabkan karena mengonsumsi obat-obatan yang dapat merusak sel darah merah maka penggunaan obat tersebut harus segera dihentikan. Atau dengan melakukan skrining G6PD sebelum mendapatkan obat–obatan yang dikenal sebagai pemicu hemolisis pada penderita defisiensi G6PD.

·         Jika pemicu utamanya disebabkan karena mengonsumsi makanan-makanan yang dapat memperburuk penyakit ini maka dianjurkan untuk mengurangi atau menghindari makanan tersebut, dan terutama pada kacang parang (kacang fava).

Penderita defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD) sebaiknya menghindari konsumsi:

·         obat-obatan oksidan: seperti antimalaria

·         beberapa jenis antibiotik, misalnya ciprofloxacin, kloramfenikol

·         OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non Steroid)

·         tanaman fava (tanaman polong-polongan)

Faktor-faktor risiko di bawah ini dianggap sebagai yang paling umum. Anda berisiko lebih tinggi untuk terkena defisiensi G6PD jika Anda:

·         Seorang pria

·         Berdarah Afrika-Amerika

·         Keturunan Timur Tengah

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

A.     Kesimpulan

Defisiensi G6PD merupakan sebuah kelainan genetik metabolik yang menyebabkan kadar enzim G6PD dalam darah tidak terpenuhi. Defisiensi G6PD juga merupakan salah satu penyakit defisiensi enzim yang umum terjadi. G6PD merupakan enzim yang sangat penting untuk menjaga sel-sel darah merah agar tetap berfungsi dengan baik dan normal.Gejala umum dari defisiensi G6PD, yaitu: Detak jantung cepat,Nafas berat, sesak, Warna urin lebih gelap,Kelelahan berat, Pucat, Demam, Pusing, Kulit atau mata berwarna kuning (jaundice) , Limpa yang membesar, Gejala pencernaan seperti diare, mual dan rasa sakit atau tidak nyaman pada perut.

B.     SARAN

Adapun saran yaitu pada praktikum selanjutnya praktikan dapat lebih tertib dalam laboratorium dan memakai APD (Alat Pelindung Diri) dengan baik dan benar. Dan segerah melakukan prosedur kerjA pemeriksaan ini agar dapat lebih memahami dan mengerti

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Josef.2018 "Prevalence  of glucose-6-phosphate  dehydrogenase  (G6PD) deficiency  among  primary  school  students  in  malaria  endemic areas in North Sulawesi". Sulawesi: university faculity of madicine. (Vol.10.No.10)

Maria ,Dewajanti Anna. 2015.”Peranan Enzim Glukosa 6 Fosfat Dehidrogenase dalam Mempertahankan Integritas Membran Sel Darah Merah terhadap Beban Oksidatif” Vol. 21 No. 56. Universitas Kristen Krida Wacana.

Mutiara Indah Sari.2010"Hubungan Defisiensi Glukosa 6 Fosfatdehidrogenase (G6pd) Dengan Infeksi Malaria Pada Populasi Nias Di Kota Meda". Medan: Universitas Sumatera Utara Medan. Skripsi

Silva, Avelina Yolanda Moeda Da. 2019.“Gambaran Defisiensi G6pd Pada Penderita Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Elopada”Kupang : Karya Tulis Ilmiah.

 

Suhartati.2010"Mewaspadai Defisiensi Glukosa 6 Fosfat Dehidrogenase (G6pd)Dalam Upaya Mewujudkan Indonesia Sehat" Surabaya : Universitas Airlangga. Skripsi

 

TeresaLiliana,2010 "Varian Molekular Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase" jakarta :Universitas Kristen Maranatha.Skripsi

Wargasetia, Teresa Liliana.2010. ”Varian Molekular Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase”jakarta: EGC.